0 Sejarah Pondok – Darul Falah Batam

Sejarah Pondok

Pondok Pesantren Darul Falah berdiri Pada tanggal 26 Juli 1988 di tengah-tengah perkampungan yang bernama “Batu Besar”. Kehadiran pondok pesantren di desa tersebut digagas dan dibidani oleh beberapa aktivis Islam, ulama dan tokoh masyarakat kota Batam yaitu H. Adamri Al-Husaini, H. Dedi Suryadi, H. Abdul Wahab Madiun, K.H. Mahrus Amin (Pimp. PP Darunnajah Jakarta), (Alm) H. Abdul Rahman, KH. ’Utsman Ahmad, Bapak Ismail, Ibu Siti Mariah, Bapak Salim, Ibu Siti Indani Nur Laila

Mengingat tugas Pondok Pesantren di masa mendatang semakin berat, maka dalam tubuh pengurus sangat dipandang perlu untuk diadakan penyegaran kepengurusan. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kinerja yang lebih baik, oleh sebab itu pada tanggal 1 Desember 2001 terbentuklah kepengurusan yang baru.

Selain tersebut diatas sesuai dengan ketentuan baru yayasan, dan telah disepakati juga bahwa untuk melaksanakan / pedomani ketentuan tersebut sehingga dari Badan Pendiri menjadi Dewan Pembina, mereka adalah H. Ahmad Dahlan, Drs. H. Gani Lasa, dan H. Ir. Lili Ramli.

Sejak awal Pondok Pesantren Darul Falah berdiri, Kyai ‘Utsman dan Bu Nyai siti ‘Aaliyah beserta para pendiri lainnya masih bergabung untuk sama-sama membangun Pondok Pesantren pertama di Kota Batam ini, namun berjalannya waktu pernah terjadi selisih faham tentang beberapa hal yang mengharuskan para pendiri ini berpisah dan akhirnya Seiring perkembangan Pondok Pesantren Darul Falah yang berada dibawah naungan Yayasan Darul Falah, mengalami perkembangan yang cukup bagus dibawah kepemimpinan KH. ‘Utsman Ahmad yang didampingi oleh sang Istri Bu Nyai Siti ‘Aaliyah dari 7 September 1993  hingga saat ini, hanya dengan do`a dan semangat ghirah dalam mempertahankan dan mengembangkan Pondok Pesantren Darul Falah. Sesuai dengan aturan pemerintah dan perubahan Undang-undang tentang Yayasan, yang harus ditetapkan oleh Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Berdasarkan kondisi tersebut diatas maka pada tanggal 21 Januari 2017 diadakanlah rapat yayasan yang dihadiri oleh para Dewan Pendiri Yayasan dan hasil rapat-rapat yayasan tersebut telah disepakati penunjukan Dewan Pengawas dan Pengurus Yayasan yang baru sehingga pada hari Senin  tanggal 13 Februari 2017  dihadapan  Notaris: Yulianistri, SH, bertempat di Batam, terjadi perubahan nama yayasan,  yaitu: Yayasan Daarul Falah Batam.

Kemudian dalam rangka penyesuaian atas tuntutan perundang-undangan tentang penyelenggaraan Yayasan, maka berdasarkan hasil keputusan rapat-rapat yang diadakan dikantor notaris Yulianistri, SH dibuatlah Akta Perubahan dan Penyesuaian Anggaran Dasar Yayasan Daarul Falah Batam  dengan Undang –Undang Nomor 16 Tahun 2001 Nomor: 28 Tahun 2004 Tentang Yayasan, maka kesepakatan tersebut dituangkan dalam Akta Notaris Nomor 05 tanggal 13 Februari 2017  Sesuai dengan judulnya, perubahan dan penyesuaian anggaran dasar, dan Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor : AHU-0003703.AH.01.04 Tahun 2017 tentang Pengesahan Pendirian Badan Hukum Yayasan Daarul Falah Batam, demikian pulalah yang tertuang dalam akta tersebut, dan sekarang Yayasan Daarul Falah Batam secara simultan, pelan tapi pasti mewujudkan semua komitmen yang telah diputuskan tersebut. Perubahan paling mendasar yang akan dilakukan adalah merubah karakteristik dan tata kerja dari Yayasan yaitu dari lembaga yang melakukan kegiatan pendidikan saja  menjadi lembaga entrepreneur  yaitu lembaga melakukan kegiatan pendidikan dan pengembangan Usaha. Dengan harapan adanya pengembangan Usaha akan dapat meningkatkan perekonomian Yayasan, sehingga dapat melebarkan sayapnya untuk mengembangkan Pondok Pesantren Darul Falah Batam.

Sejak awal berdirinya Pondok Pesantren Darul Falah Batam, Kyai ’Utsman Ahmad, Bu Nyai Siti ’Aaliyah dan Gus Afiffurrohman sudah berjuang penuh demi berkembangnya Pondok Pesantren ini, Kyai ’Utsman Ahmad beserta Istri dan anak menetap dikampung tua Seraya Atas, untuk menghidupi keluarga kecilnya Kyai ’Utsman bekerja mengulih bangunan sejak pagi hingga petang, dilanjut mengajar ngaji dari satu rumah ke rumah yang lain. Tak jarang mereka harus berpuasa demi bertahan hidup, atau Bu Nyai hanya bisa memasak nasi putih ditambah lauk bawang oseng, dan juga makan mie instan 1 bungkus untuk bertiga.

Perjuangan Kyai dan Bu Nyai ditemani oleh putra tercinta Gus Afiffurrohman sudah menjadi sejarah yang harus selalu diingat, Gus Afif sangat meneduhkan sikap dan sifatnya,lembut dan manut kepada Abah dan Ibu nya, serta selalu menemani perjuangan Kyai ’Utsman dan Bu Nyai sedari kecil hingga remaja, namun Pada 21 Romadhoon 1419 H/ 9 Januari 1998 M, Alloh berkehendak lain, disaat Kyai ’Utsman dan Bu Nyai membutuhkan penerus perjuangannya, Gus Afif menghadap Allah SWT duluan, dan menjadi kesedihan yang mendalam tentunya . karena saat kecelakaan tersebut Kyai dan Bu Nyai berada di Kota Batam sedang Gus Afif berada di Pasuruan untuk menimba ilmu.

Mengingat Perjuangan Kyai ’Utsman bersama Istri tercinta untuk mengajarkan ilmu ’alat nahwu shorof, kitab kuning  pernah ditentang/tidak disetujui untuk diajarkan kepada para santri oleh relasi mereka, menjadikan Pondok Pesantren Darul Falah bukan seperti Pondok Pesantren pada umumya kala itu, namun seiring berjalannya waktu, Alhamdulillah pelajaran-pelajaran kitab kuning mulai bisa diajarkan Kyai ’Utsman dan para asatidz lainnya. Dan sebagai Kyai yang dianggap paling Ahlussunnah wal Jama’ah serta berpengaruh, Kyai ’Utsman Ahmad diangkat menjadi Ketua MUI Kota Batam hingga saat ini.

Perjuangan-perjuangan yang menuntut keikhlasan tentu banyak sekali yang terjadi, semoga itu semua bisa menjadi pengingat dalam berjuang menegakkan Agama Allah SWT.

Kyai ’Utsman Ahmad menikahi Bu Nyai Siti ’Aaliyah yang merupakan ponakan dari Kyai Abu Amr Chotib, beliau salah satu Kyai besar di Kota Pasuruan, dari pernikahan tersebut Kyai ’Utsman dikaruniai 1 Putra dan 2 Putri :

  1. Gus Afiffurrohman (meninggal di usia 17 tahun)
  2. Ning Zahrah
  3. Ning Nur Hafidzoh

Sepanjang hayat ini, bukan harta benda yang diberikan, namun beliau hanya memberikan ilmu, semangat ghiroh dan segala hal baik untuk keluarga, untuk santri dan tentunya untuk Pondok Pesantren Darul Falah Batam yang Alhamdulillah bisa mengembangkan Pondok lebih besar dan maju, menjadikan santri sholeh-sholehah. Semoga ini menjadi amal jariyyah dan kebahagiaan dunia akhirat yang akan senantiasa  mengalirkan pahala terus menerus, jauh lebih deras dan luas dari lautan kepulauan riau yang terbentang luas, berharap anak-anak , keturunannya, serta para santri bisa melanjutkan, meneruskan perjuangan menjadikan Darul Falah Batam kian megah.

Aamiin